Beberapa Ujian Kala Salat Berjemaah Di Masjid


Aku termasuk orang yang menganggap bahwa salat berjemaah di masjid penting bagi tunainya ibadahku. Soalnya, bila tak berjemaah, hampir bisa dipastikan aku tak salat di awal waktu, dan zikir pun seadanya.

Kerumunan jemaat, bisa menjadi pelecut semangat untukku lebih serius beribadah. Maka, saban waktu bila azan telah menggema, dengan semangat kulangkahkan kaki ke masjid, musala, atau langgar terdekat.

Meski begitu, tetap juga ada berbagai hal yang mengusik niat itu. Ini mungkin hal sepele, tapi lumayan memengaruhi komitmen untuk beranjak menuju tempat salat, terutama bagi orang-orang dengan iman pas-pasan seperti aku ini.

Perkara Sendal

Sebutlah misalnya perihal tak tersedianya rak alas kaki. Paling gondok rasanya, bila begitu melangkah keluar masjid, sendal yang sedari awal kusimpan dengan rapi di kaki tangga, sudah terlempar entah ke mana, terdepak oleh siapa.

Masih mending bila hanya tersepak, biasanya, terompah itu pun berlumur pasir atau bahkan lumpur, bekas terinjak bakiak atau terlindas kasut jemaat yang berebut keluar dari masjid. Padahal, bukankah tujuan kita beralaskaki agar kaki kita selamat dari pasir dan lumpur?

Memang, bisa saja kita berucap, 'apa susahnya dibilas di tempat wudu atau kamar mandi?' atau 'mungkin, yang menginjaknya adalah para bocah yang lagi bercanda dengan kawannya, maafkanlah', atau ucapan sejenis yang membius kesadaran.

Tapi justru itu kian mendongkolkan, bukankah sebaiknya kita berusaha membangun kesadaran jemaat pada hal-hal 'daif' demikian? Mengapa kita tak belajar keluar dari masjid dengan tertib dan melangkah dengan apik?

Perkara Tandas

Hal lain yang juga dianggap enteng adalah, kebiasaan berkemih dengan serampangan dan menghamburkan urine di lantai tandas. Entah bila di kamar kecil wanita, tetapi di kamar kecil lelaki, bau pesing adalah sambutan hangat bagi jemaat.

Cobalah, maka engkau akan merasa betapa kita semua begitu tak bisa menghargai orang lain, bahkan juga diri sendiri. Apa sih sulitnya menyiram kencing sendiri, tanpa menunggu orang lain yang harus membersihkannya? 

Bukankah Islam mengajarkan bahwa ibadat harusnya dimulai dengan membersihkan diri, baik secara fisik dengan bertaharah, terlebih senantiasa melakukan penyucian hati. Tandas yang diciptakan untuk bersuci, malah menjadi ajang ketidaksucian.

Waima demikian, tentu tetap saja aku berusaha ke masjid, meski hampir selalu dengan bersungut-sungut, dan berwudu sejak dari rumah. Apesnya, belum pernah aku dengar ada khatib yang menggelar khotbah dengan tema 'kecil' ini.

Perkara Bebauan

Selanjutnya, ketika salat ditegakkan. Godaan terbesar adalah aroma, semburan uap dari mulut jemaat yang lumayan membuyarkan konsentrasi. Ada yang seperti asbak dengan gangsi tembakau nan meruap-ruap, ada pula yang serupa paksi satai, aroma bawangnya menguar. 

Apakah tak ada sikat gigi dalam kamus mereka? Atau mereka pemuja Mao Zedong yang terkenal malas sikat gigi itu? Kalau bukan, lalu apa motivasi mereka enggan menggosok gigi? Atau mereka alergi dengan pasta gigi?

Barangkali mereka tak pernah mendengar keterangan nabi perihal bagaimana malaikat begitu tak menyukai bau yang menyengat seperti bau bawang, sehingga Al Mustafa menganjurkan agar mereka yang beraroma keras itu menjauhi masjid.

Bila malaikat saja tak mau mendekat, bagaimana pula dengan aku yang memang tak tahan dengan bebauan yang keras serupa bawang dan tembakau? Kontan, bila hidungku mencium sesuatu yang sedemikian, kepalaku pusing.

Perkara Sajadah

Tentu kita semua tak lagi asing dengan pesan nabi yang selalu disampaikan para imam salat berjemaah sebelum mengangkat tangan mengumandangkan takbir. "Luruskan saf, rapatkan barisan", demikian ucapnya. 

Tapi tampaknya, anjuran itu telah disalahmengerti dan disalahpahami oleh jemaat. Bukannya memepetkan sisi luar kaki, malah mematut-matutkan tepian sajadah masing-masing. Padahal sajadah yang mereka bawa, lebarnya luar biasa.

Jadinya, ruang di sela-sela jemaat, menganga. Tak ada yang namanya merapatkan saf. Yang ada, mereka 'berlomba' memamerkan motif sajadahnya yang lempang. Terkadang lirikan maut akan muncul saat ada yang mencoba menginjak sajadahnya.

Itu sebetulnya untuk apa? Bukankah masjid-masjid kita sudah menyiapkan karpet yang tebar nan wangi? Lalu untuk apa sajadah itu dihamparkan lagi, dan justru malah menjadi penyumbang bagi berkurangnya kesempurnaan berjemaah?

Ada pula yang lebih aneh, karena terlanjur membawa sajadah lebar, tetapi ingin pula merapatkan saf, maka jadilah mereka berdiri mengangkang hingga anak kambing bisa melintas di bawahnya. Apa jadinya salat berjemaah itu bila demikian faktanya?

Masih ada beberapa perkara yang sepatutnya bisa disebutkan, tetapi cukuplah sampai di sini saja. Biarlah perkara-perkara selebihnya diungkapkan oleh jemaah lain. 

Cukuplah ini menjadi pemantik bagi kita semua bahwa ada perkara remeh dengan implikasi tak remeh di salat berjemaah kita, yang membuat kita sebagai jemaat masih jauh dari menjadi umat yang satu.

Kasman McTutu. Founder Makassar Buku.

Beberapa Ujian Kala Salat Berjemaah Di Masjid Beberapa Ujian Kala Salat Berjemaah Di Masjid Reviewed by adminisme on 2/26/2023 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.