Merapal Hujan Bulan Juni (Reviu Novel)

Reviu Buku: Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono
Foto: Andrisaubani
Penulisan Novel Hujan Bulan Juni pada mulanya didasari dari sebuah puisi rindu yang ditulis oleh Sapardi di tahun 1989. Hujan Bulan Juni sebagaimana berikut:

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu.

Puisi yang telah ditulis puluhan tahun lalu ini ternyata masih kontekstual. Puisi ini menceritakan tentang sebuah rindu yang lebih memilih lamat daripada tamat. Dari rahim puisi inilah, lahirlah kedunia, novel Hujan Bulan Juni, yang diterbitkan oleh Gramedia tahun 2015.

Pasca kelahiran, tentu buku ini begitu laris, buku yang ditulis oleh seorang sastrawan yang bijak ini sudah lama dinanti oleh para penggemar yang telah diluluhkan oleh puisi Hujan Bulan Juni.

Ada 5 tokoh yang membantu sapardi dalam menyelesaikan  novel yang ditulisnya ini yaitu:
Sarwono: Seorang Dosen Antropologi UI, peneliti andalan kampus.
Pingkan: Perempuan yang memaut hati Dosen Antropologi, Pingkan juga Asisten Dosen di Fakultas Sastra UI dan Fakultasnya berdekatan dengan Fakultas Sarwono.
Toar Palengkahu: Kakak kandung Pingkan sekaligus teman SMA Sarwono.
Sensei: Pemuda asal Jepang yang melanjutkan pendidikan pascasarjananya di UI. dan juga sebagai  Mahasiswa dampingan Pingkan.
Matindas: Sosok lelaki pemberani dan taat yang diciptakan dalam mimpi-mimpi pingkan.

Bab I
Puisi adalah Medium dan Medium adalah Komunikasi dan Komunikasi adalah Kehidupan. dalam bab ini, Sapardi melakukan penegasan ide, bukan sekadar sebagai variasi atau penyempurna cerita, bagi sapardi, inti dari segala sesuatu adalah komunikasi.

Bab II
Hujan Bulan Juni dan Upaya Penyatuan Dua Agama.
Banyak yang tidak percaya dan mempertanyakan kenapa cerita dalam ini novel ini hampir tidak sama dengan isi puisinya, tapi seperti sabda fenomenal bahwa tulisan tidak pernah menjadi milik penulis, tapi milik pembaca. sehingga pembacalah yang bebas menafsirkan tulisan tersebut, Sapardi tidak lagi memiliki hak untuk meluruskan atau mengatakan, bukan itu maksudku.
Baiklah saya akan menceritakan bagaimana sapardi melakukan penyatuan dua agama dalam novel ini. Isu perkawinan beda agama bagi saya bukanlah hal yang memengaruhi Sapardi dalam penulisan novel ini, tapi jauh sebelumnya, Sapardi sudah mempersiapkan semuanya.

Pingkan perempuan berdarah Menado-Solo dipertemukan dengan Sarwono oleh masa SMA Kakaknya, Toar. Toar adalah teman SMAnya Sarwono dan Sarwono sering datang ke rumah Toar, dari situlah Sarwono yakin ada kehidupa di matanya, Pingkan menjadi tempat rindu mukim.

Sarwono, lelaki yang beragama Islam sekalgus Javanis. Dalam hubungan antara Pingkan dan Sarwono lebih dari sekadar Hubungan pacaran, Sarwono menganggap bahwa hubungannya dengan Pingkan hanya disekat Ijab Kabul, tapi tidak bagi Pingkan, Pingkan berpikir bahwa negara belum memahaminya, dia butuh negara lain agar hubungannya dengan Sarwono bisa disebut suami-istri.

Pingkan adalah seorang katolik sedangkan Sarwono seorang Muslim. Sapardi, dalam Novel ini menceritakan bahwa keraguan perkawinan antara dua agama sebenarnya hanya berat dipikiran. dalam cerita novel ini, Bagaimana sikap pingkan terhadap Sarwono tidak pernah menyampingkan agama, begitupun sebaliknya, Pingkan sering menyuruh Sarwono untuk mengerjakan solat sedangkan Sarwono juga kadang mengingatkan pingkan untuk mencari gereja.

Sapardi yakin, bahwa penyatuan hubungan yang sakral itu hanya butuh komunikasi, atau medium. sebagaimana dalam kehidupan antara pingkan dan Sarwono, Sapardipun menceritakan dengan sangat bijak bagaimana keluarga pingkan dan sarwono bisa saling memahami. Tentu karakter dalam tokohlah yang memengaruhi semuanya.

Begitupun dalam menyatukan Kebudayaan. Tentu wawasan dan pendidikan dalam cerita ini menjadikan Sarwono dan Pingkan begitu dewasa. Pingkan awalnya disuruh oleh keluarganya di Menado untuk mencari pasangan orang Menado. Begitupun Sarwono, orang tuanya yang tak sabar ini melihatnya menikah dengan orang jawa.

Dalam Bab ini, Sensei dan Matindas seringkali membuat Sarwono cemburu. Pingkan dalam kesehariannya bersama Sarwono sering melibatkan kedua tokoh tersebut.

Bab III
Kehilangan sebagai penyakit yang tidak mudah disembuhkan. Secara normatif ini berlaku pada seorang Sarwono yang hatinya belum bisa dilepas dari jerat hati Pingkan. Pingkan telah mendapat beasiswa ke Kyoto, Jepang. Untuk melanjutkan pendidikannya di sana. Namun yang membuat hati Sarwono was-was adalah karena Sensei, Mahasiswa Pascasarjana UI itu ternyata bersama dengan Pingkan di Kyoto. Sensei juga mengajar di Universitas yang ada di Kyoto.

Bab IV
Rindu yang terbalas. Setelah beberapa penantian yang sabar, akhirnya Katsuo Mahasiswa asal jepang ini melakukan kunjung ke Universitas Indonesia dan Pingkan sebagai orang yang dekat sekaligus dipercaya oleh sensei mendampingi mahasiswanya melakukan studi di Pascasarjana Linguistik.
Setelah Pingkan tiba di Indonesia, Handphone/WA Sarwono tidak pernah lagi aktif beberapa minggu ini, Pingkan mendapati Sarwono di rumah sakit. Sarwono mengidap paru-paru basah dan mendapatkan perawatan intensif.

Bab V
Puisi “Tiga Saja Kecil” yang dimuat dalam sebuah surat kabar sebagaimana diceritakan pada Bab I.

I

bayang-bayang hanya berhak setia
menyusur partitur ganjil
suaranya angin tumbang

agar bisa berpisah
tubuh ke tanah
jiwa ke angkasa
bayang-bayang kesebermula

suaramu lorong kosong
sepanjang kenanganku
sepi itu, mata air itu

diammu ruang lapang
seluas angan-anganku

luka itu, muara itu.

II

di jantungku
sayup terdengar
debarmu hening

di langit-langit
tempurung kepalaku
terbit silau
cahayamu

dalam intiku
aku terbenam.

III

kita tak akan pernah bertemu
aku dalam dirimu

tiadakah pilihan
kecuali di situ

kau terpencil dalam diriku.

ditulis oleh: Rustam Bostan (Kepala Sekolah Kelas Literasi Komunitas Pena Hijau Takalar)
Merapal Hujan Bulan Juni (Reviu Novel) Merapal Hujan Bulan Juni (Reviu Novel) Reviewed by Pena Hijau on 11/14/2016 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.