Mawar Putih


 “Anak-anak sekalian, dua minggu lagi kita akan melaksanakan ujian nasional, bagaimana persiapan kalian? Apakah sudah mantap?” ujar pak Makmur dari atas mimbar upacara.

“Kalian perlu ingat ya bahwa sistem ujian nasional kali ini akan sangat berbeda dengan yang pernah dilaksanakan oleh kakak kelas kalian, karena pada tahun ini nilai hasil ujian nasional kalian akan dikalkulasikan dengan nilai rapor dan ujian sekolah,” pak Makmur kembali jeda sejenak, menghirup nafas dalam-dalam, “...dan satu hal perlu kalian ingat lagi jika pada tahun ini tidak ada pelaksanaan ujian susulan atau remedial jika kalian tidak lulus pada ujian nasional tanggal 18 April mendatang, dan jika nilai kalian tidak mencapai standar setelah di kalkulasikan maka kalian harus menunggu tahun berikutnya....” pak Makmur mengakhiri amanatnya pada upacara pagi itu. Upacara pun berjalan hingga selesai dengan hikmat.

“Nang, kok aku merasa takut ya mendengar amanah dari Kepsek kita tadi, tahun lalu saja Kak Nila yang jago fisika dan sering bawa tropi ke sekolah tidak bisa lulus ujian nasional, walaupun ia sudah punya tiket masuk ke ITB tapi itu tidak menjamin kelulusannya di UN, terus bagaimana dengan saya nih? Guru saja menjelaskan di depan kelas, aku malah lebih sering sibuk facebook-an di hape”, celetuk Mawar sambil memegang botol air minum kesayangannya yang airnya sudah berkurang karena sudah diteguknya karena kehausan habis upacara.

”Ahh, tidak usah secemas itu War, pasti guru-guru akan bantu kita kok. Aku dengar dari kakak alumni, katanya saat ujian nasional guru-guru saling bekerjasama memberikan kunci jawaban ke mereka. Kalau saya mah santai aja. Nanti aja kita pusingnya saat ujian, nanti malah jadi penyakit, hehehe...”, jawab Nanang sambil mengibas-ngibaskan buku ke dalam selipan jilbab tipis yang dipakainya.

Sekolah mereka memang mewajibkan setiap siswi muslim harus mengenakan jilbab. Jadi banyak siswi yang pakai jilbab hanya karena harus memenuhi aturan sekolah, akibatnya mereka mengenakan jilbab tipis dan pendek yang sesungguhnya tidak memenuhi syariat Islam.

”Kalau memang ada contekan yang disiapkan guru, kok Kak Nila tidak bisa lulus ya?” Sambung Mawar.

”Kalo masalah itu, mungkin Kak Nilanya tidak mau nyontek. Kamu tahu sendiri kan, Kak Nila itu bagaimana? Melihat jilbabnya yang super gede dan tebal itu kita sudah bisa nebak, apalagi sebelumnya ia kan ikut terlibat dalam deklarasi anti nyontek yang sempat menuai kontroversi itu.” Ulas Nanang yang masih sibuk mengibaskan buku catatannya di selipan jilbabnya.

Mendengar jawaban Nanang, Mawar hanya terdiam memikirkan nasibnya di ujian nanti, apakah ia akan mengandalkan contekan yang belum tentu akan datang atau belajar keras tanpa mengandalkan contekan seperti Kak Nila, tapi mempertaruhkan kelulusan yang sangat mahal harganya. Entahlah...

* * *

Siang itu begitu panas, kelas begitu riuh karena guru mata pelajaran Kimia tidak hadir pada jam itu. Mawar hanya duduk merenung di meja kedua dari depan tepat di samping jendela dan pintu masuk kelas dengan bersandar di tembok kelas. Tiba-tiba,

“Duaaarrrrrr....!!!” Nita menepuk punggungnya dari belakang.

Mawar pun sontak kaget sehingga menghamburkan semua lamunannya.

“Arrgggg, aduh Nita ganggu saja deh, ada apa?” Geram Mawar dengan nada sedikit kesal.

“Lah, harusnya aku yang nanya ke kamu? Kamu itu kenapa sih? Tidak biasanya kamu seperti ini.” Tanya Nita.

“Ooo... Tidak kok, lagi malas aja”, jawab Mawar dengan suara malas.

“Ehm, kamu mau nggak ikut try out? Aku dapat info nih, katanya akan ada try out di gedung Lapris, minggu depan, aku dengar anak UNHAS yang ngadain. Mau ikut?” Ajak Nita dengan muka cerah.

“Ehm, aku nggak punya persiapan Nit. Aku beda dengan kamu, mungkin kamu bisa lulus di try out itu, tapi bagaimana dengan aku? Takutnya bikin malu sekolah saja.” Keluh Mawar.

“Jangan gitu War, jangan pesimis dulu. Ayo kita coba dulu. Untuk persiapan kita belajar bersama saja. Kalau kamu mau kamu bisa nginap dulu di rumahku lalu kita belajar bersama. Mau?” Bujuk Nita sambil menarik-narik kecil baju seragam Mawar.

“Hmm, gimana ya? Thank’s banget ya, tapi kayaknya sulit deh dapat izinnya, kamu udah tahu kan ayah aku gimana? Mau kerja tugas mading untuk lomba saja aku nggak dapat izin. Tapi saya usahain deh ikut try out, Cuma aku akan belajar di rumah aja.”, tolak Mawar sambil memutar-mutarkan pulpen di jari-jarinya.

Hari itu Mawar kebetulan tidak memiliki jadwal bimbingan belajar, sepulang sekolah ia hanya memutuskan untuk singgah sementara di Warnet Linda untuk mencari beberapa data tentang soal-soal UN dan try out untuk ia pelajari di rumah.

Mawar memang bukanlah anak yang pandai atau pun rajin, tapi untuk urusan cita-cita ia sangat ingin melanjutkan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin. Ia sangat berkeinginan untuk menjadi pegawai bank, menurutnya pegawai bank itu terlihat cantik dan ayu boleh dikata itu merupakan pekerjaan modern. Ia tak ingin cita-citanya tertunda selama setahun, oleh karenanya ia sangat berusaha untuk dapat lulus UN ditahun ini.

Hari-hari menjelang try out itu Mawar betul-betul memompa dirinya untuk belajar keras, di sekolah ia sangat serius memerhatikan materi yang dibawakan oleh setiap guru, saat istirahat dan saat ada waktu kosong lainnya. Mawar selalu menyempatkan dirinya mencari Imran untuk belajar matematika, memanggil Wawan untuk belajar Fisika, meminta Putri untuk mengajarnya Kimia, dan memanggil siapa saja yang memiliki waktu untuknya untuk diajari materi-materi yang belum ia ketahui.

Minggu ini memang Mawar tidak seperti biasanya, tak lupa pula ia menyisakan beberapa waktu sepulang sekolah untuk belajar bersama Nita. Mawar sekarang memang lebih dekat dengan Nita dibandingkan dengan Nanang yang merupakan teman sebangkunya, sebabnya Nanang agak cuek dengan UN, ia betul-betul hanya mengandalkan bantuan dari guru saat UN nanti.

Di tengah kesibukan Mawar menghadapi try out, ia juga diliputi oleh perasaan yang selama ini ia pendam dengan Imran, Imran memang merupakan sahabatnya yang baru ia temui saat masuk SMA. Imran telah menjadi orang terdekat dan yang paling ia percayai dibandingkan Nita dan Nanang.

Namun semakin besar perasaannya ke Imran, maka sebesar itu pula ia akan menenggelamkan perasaan itu. Ia tak ingin mengecewakan orang tuanya, apalagi sekarang Mawar sudah tahu tentang hukum pacaran dalam Islam. Selama mereka bersahabat, Imran tak pernah mengetahui perasaan Mawar kepadanya. Justru Mawar telah menjadi katalis atau mak comlang di antara kedekatan Imran dan Nanang.

Semakin dekat pelaksanaan UN, maka semakin dekat pula perpisahan mereka. Dan mungkin persahabatan yang pernah mereka rajut akan hilang seperti karang yang tersapu ombak.

“Drinnggg..dringgg..drinnggg..”, handphone Mawar berdering lagi, itu merupakan panggilan Nita yang ketiga kalinya. Perlahan Mawar membuka matanya dan mencoba meraba handphone disamping bantalnya.

“Yah, assalamualaikum, hallo, apa?” Jawab Mawar setelah menekan tombol hijau pada handphonenya.

“Haaa? Kamu belum siap-siap yah? Aduh cepat bangun, saya sudah ada di depan Lapris nih tinggal nungguin kamu. Jadi ikut try out kan?” Celetuk Nita panjang lebar.

“Astaga, aduh-aduh saya ketiduran. Tunggu saya, saya akan segera datang. Ok!” Sontak kaget, Mawar langsung bergegas ke kamar mandi dan segera memakai seragam dan secepat mungkin lari ke depan pintu rumah mencari ojek.

Saat melihat ojeknya, Mawar lompat saja ke atas motor dan meminta tukang ojeknya utuk ngebut, namun siapa sangka di tengah kebutan itu ia berpapasan dengan mobil CR-V Silver yang juga dalam laju cepat berpapasan dengan motor mereka, kepanikan pun terjadi di persipangan itu.

“Braaaakkkkk...!!!”

“Aaaaakkkhhhhh...”

Semua menjadi gelap, semua menyadi senyap. Tak ada warna, tak ada suara. Hanya pekat, dan sakit yang tak terasa lagi.

“Aku dimana?” Akhirnya Mawar sadar setelah 12 jam pingsan dan tertidur karena masih dibawah pengaruh obat yang ia minum.

“Kamu di rumah sakit Nak”, jawab ibunya sambil mengusap-usap ubun anaknya.

“Saya harus ikut try out Bu, Nita sudah lama nunggu di Lapris.” Gagas Mawar kepada ibunya.

“Tidak usah Nak, try outnya sudah selesai sejak beberapa jam yang lalu. Mawar istirahat saja dulu yah? Supaya cepat sembuh dan bisa ikut Ujian Nasional Senin depan.” Ulas ibu Mawar sambil mengupas buah pir yang dibawa Imran dan teman-temannya sepulang dari try out.

Mawar hanya diam tertunduk dan mencoba menggigit buah pir yang disodorkan ibunya ke bibir mungil Mawar. Selama di rumah sakit, Mawar masih melakukan aktivitas belajarnya seperti biasa untuk mengganti waktu belajar yang tak bisa ia ikuti di sekolah. Saat jam pulang sekolah, Nita dan Imran selalu singgah di rumah sakit sekedar memberi semangat dan membantu Mawar belajar.

“Akhirnya saya bisa keluar juga dari ruangan putih dengan bau obat yang membuat kepala saya malah bertambah pusing itu. Nit makasih banget yah sudah mau repot-repot jemput saya.” Mawar menghembuskan nafas dalam dan mengumbar senyum manis dari lekukan tipis di bibirnya itu ketika tiba di rumahnya kembali setelah diperbolehkan keluar dari rumah sakit.

“Tidak apa-apa kok, by the way bagaimana persiapanmu menjelang ujian nasional? Sudah mantap?” Balas Nita dengan senyum pula.

“Nita, kayaknya kesempatan saya untuk bisa masuk di Universitas impian saya makin jauh deh, sampai sekarang saya belum merasa siap untuk ikut UN, apa lagi saya masih harus mengenakan kedua tongkat ini. By the way, bagaimana hasil try out kemarin? Kamu lulus kan?” Singgung Mawar kembali.

“Alhamdulillah banget War, saya bisa masuk dalam daftar sepuluh siswa yang lolos dengan nilai tertinggi di try out itu.” Jawab Nita dengan riangnya.

“Pasti seneng banget ya? Kayaknya kamu bisa dengan mudah lolos di UN nanti deh. Bagaimana dengan aku?” Sambung Mawar dengan mata yang hampir meneteskan air mata merasa takut tak dapat lulus UN.

“Kamu juga pasti bisa, jangan khawatir, tiga hari menjelang UN ini akan saya luangkan banyak waktuku untukmu, Imran juga sudah bilang mau bantu kamu juga kok.” Sanggah Nita sambil meletakkan tas yang berisi pakaian Mawar selama di rumah sakit ke atas meja belajar Mawar di pojok kamar yang berwarna hijau itu.

“Makasih banget ya Nita, sungguh saya sangat beruntung bisa memiliki teman seperti kamu dan Imran.” Ungkap Mawar yang sedang terduduk haru di atas tempat tidurnya yang empuk yang dibalut dengan seprey pink kesukaannya.

Tiga hari menjelang UN betul-betul dimanfaatkan Mawar untuk belajar keras, walaupun ke sekolah ia masih menggunakan dua tonggkat di sela ketiaknya karena kakinya masih digips setelah kecelakaan yang membuat tulang kakinya retak, itu sama sekali tak menurunkan niatnya untuk dapat lulus UN tahun ini.

Sepulang sekolah Nita menyempatkan diri mengantar Mawar ke rumahnya dan dilanjutkan belajar hingga pukul setengah enam, karena rumah Nita lumayan dekat dari rumah Mawar hanya memerlukan sepuluh menit untuk sampai kerumahnya.

Akhirnya hari yang menegangkan itu pun tiba, sepertiga malam sebelum memulai aktifitas di hari itu disempatkan Mawar untuk melaksanakan tahajud walaupun masih shalat dalam kondisi kaki terlentang karena belum bisa dibengkokkan, tak menghalangi dia untuk khusyuk memohon kepada Sang Rab agar harinya dilimpahi berkah dan dimudahkan jalannya menjawab semua soal UN.

Jantung Mawar serasa berdegub kencang, tak ada hal lain dipikirannya sekarang kecuali ujian nasional yang cukup menghitung menit lagi akan dimulai, kini dia telah duduk tenang diruangan sebelas tepat dibangku paling belakang dari berisan ketiga.

Dalam ruangan itu, telah duduk Nanang tepat di depan meja Mawar, sedang Nita telah lengkap alat ujiannya di meja paling depan yang berhadapan dengan meja pengawas, Imran berada di belakang Nita dan beberapa teman lainnya telah siap dengan perlengkapan masing-masing.

Tepat pukul 08:00, pengawas ruangan membuka segel soal yang terbagi ke dalam lima paket itu dan di bagikan secara acak ke setiap siswa. Sementara pengawas yang lainnya membagikan lembar biodata untuk di isi selama lima menit sebelum kertas soal dibagikan.

“Bismillahirrahmanirrahim....”, ucap Mawar perlahan dan setengah berbisik di dalam hati untuk mulai mengisi biodata.

Mawar cukup tegang, ia menghelah nafas panjang ketika soal dengan paket C itu dibagikan. Nampak dari raut mukanya yang kini meneteskan sedikit keringat. Perlahan ia mulai membaca soal yang dirasa cukup ia pahami, UN di hari pertama ini adalah matematika. Mawar begitu serius mengerjakan soal, ia tak menghiraukan Nanang yang di depannya sudah memberikan berbagai macam kode meminta jawaban ke Mawar.

Mawar memang telah berniat tidak akan menyontek di UN ini, ia mengingat pesan ibunya untuk menjadi anak jujur dalam segala hal dan mengingat kembali alasan mengapa kak Nila dulu tidak mau nyontek dalam ujian nasional.

Mawar memang sebelumnya telah menanyakan kepada kak Nila tentang apa alasannya tidak mau nyontek di ujian nasional tahun lalu melalui pesan di facebook. Kak Nila hanya membalas pesan itu dengan singkat,

Nyontek bukan budaya kita Dek, ngapain lulus dengan nilai tinggi namun bukan kerja keras kita, itu kan sama saja kita mepersiapkan diri untuk mencari uang dengan tidak halal.

Seperti yang telah diduga sebelumnya, ada banyak bentuk contekan yang diberikan oleh pengawas dan guru di sekolah Mawar. Contekan pertama biasanya disiapkan terlebih dahulu oleh Kepala Sekolah dan akan diberikan kepada mereka yang cukup dekat dengan Kepala Sekolah. Ada pula contekan yang diberikan via sms dari guru mata pelajaran yang juga telah memiliki soal UN sebelumnya.

Satu minggu menjalani ujian nasional betul-betul telah membuat Mawar cukup stres dan banyak menyita konsentrasinya. Selama seminggu itu pula Mawar mencoba untuk tidak memberikan contekan kepada siapa saja termasuk kepada dirinya sendiri.

Akhirnya pengumuman yang ditunggu itu pun dikeluarkan, pengumuman kali ini diberikan melalui media surat yang di antar oleh kantor pos langsung ke rumah siswa, baik siswa yang lulus maupun yang tidak lulus akan diantarkan ke rumah mereka.

Namun hingga magrib menjelang, surat pengumuman itu tidak datang-datang juga ke rumah Mawar. Sudah seharian Mawar di teras rumahnya menunggu kedatangan surat itu, namun tak datang juga. Mawar mulai gelisah, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya langsung kepada Kepala Sekolah.

Ketika Mawar membuka gerbang rumahnya untuk hendak ke rumah Kepala Sekolah, tiba-tiba ia terkejut karena Imran bersama Nita dan teman-temannya yang lain telah berbaris rapi memegang bunga mawar putih yang banyak, sementara Imran sendiri menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.

“Ha? Kalian ngapain di sini? Ini kan sudah malam? Terus, ngapain kalian bawa bunga mawar segala? Ada acara apa, perasaan hari ini bukan hari ulang tahun aku kok.”, Sahut Mawar yang sudah kebingungan.

“Kami tahu kok, ia kan Imran?” Nita menjawab sambil mengedipkan mata ke Imran dengan sedikit senyum yang malah membuat Mawar tambah penasaran.

“Kalian jangan bercanda deh, sudah tahu temannya lagi sedih belum tahu nasibnya di UN ini, kalian malah ngajaki bercanda. Kalo gitu saya pergi dulu ya? Saya harus menanyakan langsung ke Kepsek kita tentang nasib saya nih. Okey, saya pergi dulu ya?” Tanpa menunggu jawaban Mawar langsung saja melanjutkan langkahnya untuk menemui pak Makmur.

Namun belum sempat lagi ia melanjutkan langkah ketiganya, tiba-tiba Nanang yang juga memegang bunga mawar di tangan kanannya langsung menarik tangan Mawar dengan tangan kirinya seraya berkata,

“Hey, mau kemana kamu? Nggak mau nunggu jawaban kami dulu? Asal pergi saja, cobalah hargai teman-temanmu ini yang sudah ribet ngurusin kejutan buat kamu. Hehehe...”, celetuk Nanang dengan nada sedikit meledek dan tersenyum tipis pula persis yang nampak dengan yang dilakukan Nita.

Tiba-tiba saja Imran langsung memotong percakapan dan tanpa basa-basi langsung mengatakan,

”Mawar selamat! Kamu berhasil, ini surat kamu yang sengaja kami ambil dari tukang pos sebelum mengantarkan ke rumahmu, kamu lulus!!.” Ungkap Imran cerah.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Mawar hanya meneteskan air mata haru den memeluk Nita yang berdiri tepat di sebelah kanannya.

Ada satu hal lagi yang malah membuat Mawar bertambah senang, yaitu ia juga menemukan selipan kertas di surat yang diberikan Imran itu yang berisi kalimat singkat.

Jagalah Mawar indahku ini agar selalu segar.

Sungguh kalimat yang memiliki banyak makna itu telah membuat hari Mawar sempurna saat itu.


Nurjayanti Imtitsal Falihah Nahilah, adalah nama yang dipilih oleh Nurjayanti menjadi nama penanya. Gadis yang lahir di Topejawa pada 24 Oktober 1994 ini, sekarang tercatat sebagai alumni SMA Negeri 01 Takalar. Nurjayanti bermukim di Takalar-Thailand.

Cerpen ini masuk dalam Kumpulan Cerpen 'You Can Do It!' (Pena Hijau Publishing, Takalar, Februari 2011).





Mawar Putih Mawar Putih Reviewed by adminisme on 10/13/2023 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.